بسم الله الرحمن الرحيم
Assalamu'alaikum wr wb...
Tahun 2009 adalah tahun pemilihan umum akan diadakan (kembali). Tahun yang sibuk bagi para partai-partai untuk bersiap-siap diri dalam berbagai hal, strategi, kampanye, promosi, dan berbagai persiapan lainnya. Tahun dimana rakyat Indonesia akan memilih presidennya kembali.
Mungkin sejak 3 Juni 1971, isu golput (golongan putih) tidak pernah benar-benar hilang dari perhelatan pemilu. Tiga Juni 1971, tepat sebulan sebelum pemilu 1971, menurut artikel yang saya dapat dari sini , adalah tanggal dimana seorang aktivis mahasiswa memproklamirkan gerakan moral sebagai sebuah tindakan protes mereka terhadap sistem yang ada saat itu, gerakan moral itu mereka namakan dengan “golongan putih”.
Belum lama ini MUI mengeluarkan fatwa mengharamkan golput jika ada pemimpin yang layak dipilih. Sebagian orang memprotes fatwa tersebut karena merasa bahwa golput merupakan hak asasi. Ada juga orang yang mempermasalahkan fatwa tersebut karena menolak jika agama yang suci dibawa ke dalam politik yang penuh dengan intrik, dengan kata lain, mengikuti sekularisme (pemisahan antara agama dengan dunia). Untuk pembahasan alasan kedua ini (alasan sekularisme) untuk menolak fatwa MUI, saya rasa tak perlu panjang lebar, karena Islam menolak sekularisme.
Pertanyaannya adalah, jika bisa memilih dan ada yang layak dipilih, kenapa harus golput? Jika seseorang memilih golput, tetapi pemilu tetap dilaksanakan, tetap akan ada pemenang pemilu. Dengan memilih golput, berarti orang yang golput mempersilahkan siapapun calon yang ada untuk menang, tanpa melakukan dukungan maupun perlawanan.
Memilih dalam pemilu berarti berpartsipasi.
jika ada calon yang layak, kenapa tidak kita dukung?
Jika golput merupakan bentuk protes atas sistem dan keadaan yang ada, maka golput itu sendiri juga bukanlah solusi, karena dengan tidak melakukan apapun, sistem dan keadaan yang ada tidak akan berubah dengan sendirinya. Kadang kala, sebuah perubahan perlu dilakukan dengan cara masuk ke dalam sistem, dan dengan cara bertahap.
Dengan memilih calon yang layak, bagi saya sudah merupakan sebuah partisipasi dalam perubahan.
Jika memilih lebih bermanfaat jika dibandingkan dengan tidak memilih, lalu kenapa harus golput?
Golput adalah hak, tapi saya pikir, pergunakanlah hak untuk tidak memilih itu dengan lebih bijak, karena di lain pihak, kita juga memiliki hak yang lain, yaitu hak untuk memilih. Memilih pemimpin yang layak, tentu membuka harapan untuk memberikan perubahan, perubahan ke arah yang lebih baik, yang tidak hanya menguntungkan kita sendiri, tapi juga orang banyak. Terkadang, kita memerlukan perbandingan-perbandingan dalam memilih sesuatu. Sebuah skala prioritas yang akan kita gunakan dalam memutuskan sesuatu. Lalu, apakah memilih hal yang sekiranya lebih memberikan manfaat untuk diri sendiri (atau bahkan orang lain) adalah hal yang salah?
Fenomena golput merupakan hal yang sudah ada bertahun-tahun di Indonesia. Jika anda berpikir bahwa, satu suara saya tak akan berarti, coba sedikit kita pikirkan, jika ada berjuta-juta orang yang berpikiran seperti itu, berarti akan ada jutaan suara yang masing-masing berpikiran bahwa suaranya tak akan berarti.
Hal yang kecil jika berakumulasi, bukankah akan menjadi hal yang besar?
Semoga saat pemilihan umum nanti kita mendapatkan calon yang memang layak untuk memimpin negeri ini. Dan semoga pemimpin Indonesia yang akan terpilih nanti merupakan pemimpin yang layak untuk memimpin negeri ini, dan dapat membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Aamiin.
Wallahu a’lam bishshawab.
Artikel ini juga sebagai rasa penyesalan saya karena tidak memilih dalam pemilihan camat di daerah rumah saya. Semoga ALLAH SWT memaafkan kesalahan-kesalahan saya, dan semoga saya bukan termasuk orang-orang yang no-action talk-only. Aamiin.
-Ecky-
15 Maret 2009
Bahan bacaan:
Seri Opini: 1. Golput dalam Pandangan Islam
Arsip Lama : GOLPUT BUKAN SOLUSI, TAPI JEWERAN !!
pict from : http://inohartono.wordpress.com
Saya merekomendasikan anda untuk membaca artikel-artikel diatas berkenaan masalah-masalah golput. :)







karena memang postingan itu tidak begitu serius. Oke, cara makan mie seperti yang saya kemukakan sebelumnya memang tidak higienis dan sehat, tapi yah..terima kasih teman-temanku atas perhatiannya,
, semoga kesehatan saya tidak terganggu karena cara makan mie tersebut, aamiin.






